KALTARABISNIS.CO – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih belum terbendung dan melanjutkan tren penguatan pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026. Indeks tercatat parkir di zona hijau dengan kenaikan yang signifikan.
Berikut adalah rincian data perdagangan bursa hari ini:
- Level Penutupan: 9.075,40 (Naik 42,82 poin atau +0,47%).
- Statistik Saham: 339 saham menguat, 331 saham melemah, dan sisanya stagnan.
- Nilai Transaksi: Rp28,25 triliun.
- Volume Saham: 50,63 miliar lembar saham.
- Frekuensi Transaksi: 3,37 juta kali.
- Kapitalisasi Pasar: Rp16.542 triliun (hampir menyentuh US$ 1 miliar).
Dalam dinamika perdagangan intraday hari ini, IHSG sempat mencatatkan sejarah baru dengan menembus level psikologis 9.100 untuk pertama kalinya. Posisi tertinggi yang berhasil disentuh berada di angka 9.10,82 sebelum akhirnya sedikit melandai.
Kinerja gemilang IHSG hari ini didorong oleh sektor konsumer non-primer dan sektor finansial. Sebaliknya, tekanan jual justru terjadi pada sektor infrastruktur dan barang baku yang terkoreksi paling dalam.
Dua bank besar milik negara yang kini di bawah kendali Danantara menjadi motor utama penggerak indeks:
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI): Melonjak 2,69% ke level Rp3.820 per saham (berkontribusi 15,72 poin indeks). Emiten ini baru saja membayarkan dividen interim tahun buku 2025 sebesar Rp137 per saham.
- Bank Mandiri (BMRI): Melesat 3,10% ke level Rp4.990 per saham (berkontribusi 11,65 poin indeks). BMRI juga telah merampungkan pembagian dividen interim tahun buku 2025 senilai Rp100 per saham.
Namun, penguatan IHSG tertahan oleh saham-saham milik grup konglomerat yang menjadi pemberat utama (laggard). Saham BUMI dan BRMS tercatat memberikan sumbangsih koreksi terbesar pada perdagangan hari ini.
Perdagangan Kamis ini sekaligus menjadi penutup pekan kedua Januari 2026 bagi pasar keuangan Indonesia. Bursa akan diliburkan pada hari Jumat untuk memperingati hari besar keagamaan Isra Mi’raj.
Di balik reli saham, pasar keuangan domestik sedang dibayangi tekanan berat dari nilai tukar. Pantauan lapangan di sejumlah money changer utama Jakarta menunjukkan harga jual Dolar AS telah melampaui angka keramat Rp17.000.
Di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, kurs jual berada di rentang Rp16.930 hingga Rp17.010 per Dolar AS. Kondisi ini mencerminkan adanya lonjakan permintaan fisik valuta asing yang masif.
Kepanikan ini dipicu oleh aksi lindung nilai (hedging) masyarakat serta kebutuhan mendesak para pelaku usaha untuk mengamankan likuiditas valas guna keperluan impor bahan baku.
