KALTARABISNIS.CO – Momentum pemulihan Rupiah yang sempat terlihat pada Rabu kemarin harus terhenti. Pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, mata uang Garuda kembali berada di bawah tekanan pasar global yang agresif.
Berdasarkan data pasar spot, nilai tukar Rupiah ditutup dengan koreksi yang cukup signifikan. Berikut rincian data penutupan hari ini:
- Pelemahan: 31 poin.
- Persentase: 0,18%.
- Level Penutupan: Rp16.896 per Dolar AS.
Tren pelemahan ini juga terkonfirmasi pada data kurs referensi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Posisi Rupiah di JISDOR tercatat jatuh ke level Rp16.880 per Dolar AS pada hari yang sama.
Analisis Faktor Penekan
Pembalikan arah ini terjadi di tengah “polikrisis” global yang memicu sentimen risk-off (penghindaran risiko) di kalangan investor. Pelaku pasar kembali memburu aset safe haven seperti Dolar AS menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya situasi di Iran, serta friksi diplomatik antara AS dan Venezuela. Hal ini menyebabkan indeks Dolar AS (DXY) kembali menguat, menekan mata uang emerging market termasuk Rupiah.
Meskipun demikian, narasi fundamental domestik tetap menjadi penyeimbang. Sebagaimana disampaikan sebelumnya oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, fluktuasi jangka pendek ini dinilai masih dalam koridor yang dapat dikelola. Keyakinan pemerintah bertumpu pada proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5,4% hingga 5,5% yang diharapkan tetap mampu menjaga daya tarik investasi jangka panjang di tengah volatilitas harian.
Pemerintah dan otoritas moneter terus mewaspadai dinamika eksternal ini untuk memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga sesuai fundamentalnya.
