KALTARABISNIS.CO – Target ambisius Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk menembus level psikologis 10.000 pada tahun 2026 kini menjadi sorotan utama pelaku pasar. Optimisme ini bukan tanpa dasar, melainkan didorong oleh tiga fakta kunci yang melibatkan kekuatan fundamental ekonomi hingga kebijakan strategis pemerintah di awal tahun 2026.
Bedah Potensi IHSG Menuju Rekor 10.000
Kenaikan IHSG hingga menyentuh angka 10.000 dipandang sebagai tonggak sejarah baru bagi pasar modal Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Keuangan telah mengidentifikasi variabel-variabel yang akan memastikan angka tersebut dapat tercapai dengan landasan yang kuat.
Berikut adalah tiga fakta utama di balik proyeksi kenaikan IHSG tahun 2026:
1. Dominasi Investor Domestik dan Ekonomi Solid
Fakta pertama terletak pada pergeseran struktur pasar modal Indonesia yang kini lebih didominasi oleh investor lokal. OJK menilai bahwa kekuatan ini, ditambah dengan kondisi riil ekonomi yang terjaga, akan menjadi mesin penggerak utama indeks.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, menegaskan pentingnya kedua aspek ini berjalan beriringan.
“Tentunya bila fundamental ekonomi Indonesia solid dan peran investor domestik meningkat, rasanya level 10.000 tersebut bukan tidak mungkin untuk tercapai,” kata Inarno.
Keterlibatan investor domestik ini memberikan stabilitas ekstra bagi bursa, terutama saat menghadapi volatilitas atau tekanan sentimen dari pasar global.
2. Fokus pada Integritas dan Ekosistem Pasar Sehat
Fakta kedua adalah komitmen otoritas untuk menjaga agar kenaikan indeks tidak bersifat spekulatif. OJK menekankan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan lebih penting daripada sekadar mengejar angka tinggi dalam waktu singkat (momentum jangka pendek).
Untuk mencapai hal tersebut, OJK berupaya menciptakan ekosistem yang transparan bagi seluruh pelaku pasar.
“Kami juga mendorong terciptanya ekosistem pasar modal yang sehat dan berintegritas agar potensi pertumbuhan indeks maupun instrumen lainnya bisa tercapai secara berkelanjutan, bukan hanya karena momentum jangka pendek,” jelas Inarno.
3. Optimisme Menkeu dan Sinkronisasi Kebijakan
Fakta ketiga bersumber dari optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Menkeu melihat bahwa pondasi ekonomi Indonesia saat ini telah berada di jalur yang tepat berkat kebijakan yang sudah dimaksimalkan antara pemerintah dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Purbaya meyakini bahwa koordinasi fiskal dan moneter yang semakin harmonis akan menjadi katalis utama bagi kepercayaan pasar.
“Kan tadi naik (IHSG), memang ada optimisme di pasar bahwa kita akan membaik ke depan. Kalau saya lihat pondasi ekonominya yang sudah ada membaik sekarang, tahun ini akan lebih baik lagi karena kebijakan kita dengan BEI sudah maksimum,” ujar Purbaya.
Kesimpulan dan Langkah Strategis
Ketiga fakta di atas menunjukkan bahwa target IHSG 10.000 didukung oleh strategi lintas sektoral. Pemerintah dan otoritas bursa kini berfokus pada:
- Memastikan kebijakan fiskal mendukung iklim investasi.
- Memperkuat perlindungan investor melalui pengawasan yang berintegritas.
- Menjaga stabilitas makroekonomi agar selaras dengan performa pasar saham.
Dengan pondasi yang sudah terbentuk, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun yang progresif bagi para investor di tanah air.
