VIRAL Guru Honorer di Sulsel Dipecat Gegara Protes Digantikan Adik Kepsek yang Lolos PPPK

VIRAL Guru Honorer di Sulsel Dipecat

KALTARABISNIS.CO – Sebuah rekaman video yang memperlihatkan percekcokan antara seorang guru honorer dengan kepala sekolah di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, mendadak viral di media sosial. Insiden yang terjadi di SDN 7 Bontoramba ini memicu sorotan publik karena adanya dugaan praktik nepotisme dalam pengisian formasi tenaga pendidik di sekolah tersebut.

Guru honorer yang telah mengabdi selama empat tahun tersebut menyampaikan protes keras lantaran posisinya digeser secara mendadak. Ia mengaku dipindahkan untuk mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya demi memberikan ruang bagi orang baru yang diduga memiliki hubungan kekerabatan dengan pimpinan sekolah.

Polemik Penempatan Pengajar dan Formasi PPPK

Persoalan ini bermula ketika guru honorer tersebut diminta untuk berhenti mengajar mata pelajaran kelas dan beralih menjadi guru Bahasa Inggris. Keputusan ini dinilai janggal karena sang guru merupakan lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang secara kompetensi tidak dipersiapkan untuk mengajar bahasa asing.

“Kenapa saya dialihkan ke Bahasa Inggris, padahal jurusanku PGSD, bukan Bahasa Inggris,” ujar guru honorer tersebut dalam potongan video yang beredar, mempertanyakan dasar pemindahannya.

Situasi semakin pelik karena dugaan munculnya nama adik kandung kepala sekolah dalam seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu. Guru honorer itu mengeklaim bahwa adik sang kepala sekolah sebenarnya sudah tidak aktif lagi mengabdi di SDN 7 Bontoramba, namun tiba-tiba namanya muncul dan dinyatakan lolos seleksi.

Jawaban Keras Kepala Sekolah

Dilansir dari video.tribunnews.com, menanggapi keberatan tersebut, kepala sekolah SDN 7 Bontoramba menyatakan bahwa dirinya hanya menjalankan aturan yang berlaku. Ia menegaskan posisinya sebagai pimpinan yang memiliki kewenangan atas penempatan tenaga pengajar di lingkungan sekolahnya.

“Semua yang nujelaskan saya sudah tahu, tapi saya sebagai pimpinan di sini tidak bisa melawan aturan,” ucap kepala sekolah dalam video tersebut guna merespons keberatan sang guru.

Ketegangan di dalam ruangan tersebut terus meningkat. Guru honorer sempat berdiri dari kursinya untuk memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai status pengabdiannya selama empat tahun terakhir. Namun, kepala sekolah memintanya untuk tetap tenang dan kembali duduk sebelum akhirnya perdebatan mencapai titik puncak.

Pemecatan di Tengah Perdebatan

Alih-alih memberikan solusi administratif atau penjelasan yang mendinginkan suasana, kepala sekolah justru mengambil tindakan tegas dengan memberhentikan guru honorer tersebut di tempat. Ia mengeluarkan pernyataan penutup yang menandai berakhirnya masa tugas sang guru di sekolah tersebut secara lisan.

“Sekarang begini, kau berhenti jadi honor, saya keluarkan kau, titik. Jangan melawan,” katanya dengan nada tinggi sembari melangkah meninggalkan ruangan.

Kasus ini kini menjadi perbincangan hangat di masyarakat, terutama terkait transparansi seleksi PPPK Paruh Waktu dan perlindungan terhadap hak-hak guru honorer yang telah lama mengabdi. Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait di dinas pendidikan setempat belum memberikan keterangan resmi mengenai keabsahan pemecatan maupun dugaan manipulasi data kelolosan PPPK tersebut.

Follow Kaltarabisnis.co di Google News untuk Update Berita Terkini