SBY Cemas Perang Dunia III, Sebut Situasi Mirip Era 1914 dan 1939

SBY Cemas Perang Dunia III

KALTARABISNIS.CO – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan pandangan serius terkait kondisi geopolitik global. Dalam pengamatannya selama tiga tahun ini, khususnya dinamika global pada bulan-bulan terakhir, SBY mengungkapkan kekhawatiran mendalam akan terjadinya prahara besar.

Sebagai tokoh yang puluhan tahun mendalami sejarah peperangan dari abad ke abad, SBY secara terus terang mengaku cemas jika situasi ini berujung pada Perang Dunia Ketiga. Meskipun ia percaya hal mengerikan tersebut masih bisa dicegah, ia menilai ruang dan waktu untuk pencegahan kian menyempit “day by day”.

Kemiripan dengan Era Perang Dunia I dan II

SBY menyoroti adanya kemiripan situasi saat ini dengan kondisi menjelang Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945). Indikator yang disebut meliputi munculnya pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya aliansi negara yang saling berhadapan, serta pembangunan kekuatan militer besar-besaran lengkap dengan penyiapan ekonomi dan mesin perangnya.

Sejarah mencatat bahwa pada masa lalu, meski tanda-tanda perang besar sudah terlihat, langkah nyata pencegahan seringkali minim akibat ketidakpedulian atau ketidakmampuan bangsa-bangsa di dunia.

Potensi Kehancuran Fatal

Dalam pandangannya, jika perang total yang melibatkan senjata nuklir benar-benar pecah, kehancuran dunia tidak akan terelakkan. Mengutip banyak studi, SBY menyebut korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 miliar manusia. Skenario terburuknya adalah musnahnya harapan manusia tanpa ada peradaban yang tersisa.

Ia menegaskan bahwa doa dari 8,3 miliar manusia penghuni bumi saja tidak cukup jika tidak dibarengi upaya nyata. Tuhan tidak akan mengabulkan doa begitu saja tanpa ikhtiar bangsa-bangsa untuk menyelamatkan dunia.

Mengutip pemikiran Edmund Burke dan Albert Einstein, SBY mengingatkan bahwa kehancuran dunia bukan semata disebabkan oleh orang jahat, melainkan karena orang-orang baik yang membiarkan kehancuran itu terjadi.

Desakan untuk PBB

Menyikapi hal ini, SBY menyarankan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengambil inisiatif. Ia mengusulkan agar PBB mengundang para pemimpin dunia untuk duduk bersama dalam Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly).

Agenda utamanya harus berfokus pada langkah nyata mencegah krisis dunia skala besar dan kemungkinan perang dunia baru. Meskipun SBY menyadari bahwa saat ini PBB mungkin terlihat tidak berdaya, ia menekankan agar lembaga tersebut tidak membiarkan sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran atau “doing nothing”.

SBY menutup pernyataannya dengan realistis namun penuh harap. Meskipun seruan para pemimpin dunia mungkin akan dianggap “bagai berseru di padang pasir”, hal itu bisa menjadi awal kesadaran untuk penyelamatan bumi.

“Ingat, if there is a will, there is a way,” pungkas SBY.

Follow Kaltarabisnis.co di Google News Sekarang!