KALTARABISNIS.CO – Peta persaingan industri ponsel pintar global kembali mengalami pergeseran strategi, kali ini menyasar pada aspek penamaan produk. Setelah sekian lama berkutat pada terminologi hierarki seperti “Standard”, “Pro”, dan “Ultra”, label “Pro Max” kini mulai diadopsi secara masif oleh para raksasa teknologi asal Tiongkok.
Produsen besar yang tergabung dalam kelompok OVH—akronim untuk OPPO, vivo, dan Honor—dilaporkan tengah mematangkan rencana untuk menyematkan embel-embel “Pro Max” pada lini flagship terbaru mereka. Langkah ini disinyalir sebagai upaya menandingi strategi yang telah lebih dulu dipopulerkan oleh Xiaomi di pasar Android.
Informasi mengenai perubahan haluan ini pertama kali diungkap oleh pembocor informasi (leaker) kenamaan di industri teknologi, Digital Chat Station (DCS). Melalui unggahannya di platform media sosial Weibo, DCS mengindikasikan bahwa ketiga pabrikan tersebut sedang menggodok skema penamaan empat tingkat untuk struktur produk masa depan.
Skema Empat Tingkat Jadi Standar Baru
Dalam laporannya, DCS menyebutkan bahwa hierarki produk flagship Android kemungkinan besar akan terbagi menjadi empat varian utama: “Standard”, “Pro”, “Pro Max”, dan “Ultra”.
Adopsi istilah “Pro Max” ini dinilai bukan sekadar eksperimen satu jenama semata, melainkan berpotensi menjadi standar baru di ekosistem Android. DCS bahkan meyakini tren ini akan meluas hingga ke merek-merek yang lebih kecil seperti Meizu, kendati kelanjutan lini produksi kelas atas dari merek tersebut masih menjadi tanda tanya.
Perubahan ini dianggap strategis untuk menyederhanakan pemahaman konsumen. Label “Pro Max” secara implisit menanamkan persepsi sebagai varian dengan spesifikasi paling tinggi, mulai dari ukuran layar terluas, performa mesin puncak, hingga konfigurasi kamera yang paling lengkap dibandingkan saudara-saudaranya.
Efek Domino Xiaomi 17 Pro Max
Gelombang penggunaan nama “Pro Max” di jagat Android ini tidak lepas dari kehadiran Xiaomi 17 Pro Max yang sukses mencuri perhatian pasar. Diluncurkan pada September lalu, perangkat ini menjadi pemicu tren dengan memosisikan dirinya secara tegas di segmen ultra-premium.
Xiaomi tidak main-main dalam membekali perangkat tersebut. Xiaomi 17 Pro Max hadir dengan layar datar berukuran jumbo 6,9 inci, menjadikannya salah satu panel terluas di kelasnya. Dari sektor dapur pacu, ponsel ini menjadi pionir penggunaan platform Snapdragon 8 Ultra generasi kelima.
Sektor fotografi pun digarap serius dengan sistem kamera bertajuk “Leica Master of Light” yang mengandalkan sensor Light Hunter 950L. Tak hanya itu, Xiaomi menyematkan inovasi layar sekunder di bodi belakang yang berfungsi untuk notifikasi dan pratinjau swafoto. Kehadiran perangkat all-rounder ini secara tidak langsung memaksa kompetitor untuk merevisi portofolio mereka agar tetap relevan di mata konsumen kelas atas.
Tantangan Homogenisasi Identitas
Meski penggunaan nama “Pro Max” memudahkan klasifikasi tingkatan produk, langkah ini memunculkan kekhawatiran baru terkait homogenisasi identitas merek. Di masa lalu, setiap produsen memiliki ciri khas penamaan yang menjadi karakter unik mereka.
Namun, dengan semakin seragamnya desain fisik smartphone dan kemiripan spesifikasi jeroan, penyeragaman nama ini dikhawatirkan akan semakin mengaburkan batas pembeda antar-merek. Jika semua lini flagship menggunakan nama belakang “Pro Max”, diferensiasi produk di masa depan kemungkinan hanya akan bergantung pada logo, antarmuka sistem operasi—seperti HyperOS, ColorOS, atau OriginOS—serta ekosistem perangkat lunak yang ditawarkan.
Kini, publik menanti realisasi dari kabar yang menyebut OPPO, vivo, dan Honor akan segera merilis model “Pro Max” mereka. Pertaruhan utamanya adalah apakah label tersebut akan dibarengi dengan inovasi teknologi yang substansial, atau hanya sekadar taktik pemasaran (“gimmick”) untuk menempel ketat dominasi pasar Xiaomi di tahun ini.
