Samsung Exynos 2600 Meluncur, Bawa Arsitektur AMD RDNA 4 dan Fabrikasi 2 nm

Samsung Exynos 2600

KALTARABISNIS.COSamsung kembali menggebrak industri semikonduktor global dengan memperkenalkan Exynos 2600. Chipset anyar ini langsung mencuri perhatian karena menjadi pionir yang membawa arsitektur grafis AMD RDNA 4 ke dalam ekosistem smartphone melalui unit pemrosesan grafis (GPU) Xclipse 960.

Langkah strategis ini mempertegas ambisi raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut untuk kembali mendominasi pasar chipset kelas atas. Dengan memadukan teknologi fabrikasi mutakhir dan arsitektur grafis level konsol, Samsung menargetkan lonjakan signifikan pada aspek visual, performa gaming, serta efisiensi energi.

Debut Arsitektur RDNA 4 di Perangkat Mobile

Exynos 2600 tercatat sebagai prosesor seluler pertama yang mengadopsi arsitektur AMD RDNA 4. Kehadiran GPU Xclipse 960 merupakan buah dari kolaborasi berkelanjutan antara Samsung dan AMD yang telah terjalin sejak generasi RDNA 2.

Varian arsitektur MGFX4 yang disematkan pada chipset ini telah diadaptasi secara spesifik untuk kebutuhan perangkat bergerak. Desain tersebut dirancang untuk mempertahankan performa grafis tinggi namun tetap hemat daya. Kendati kecepatan clock GPU dilaporkan sedikit lebih rendah dari pendahulunya, Samsung memastikan bahwa performa grafis secara keseluruhan mengalami peningkatan drastis.

Berdasarkan data internal Samsung Semiconductor, kemampuan pemrosesan grafis Exynos 2600 mampu melampaui generasi sebelumnya hingga dua kali lipat. Peningkatan performa ini membuka jalan bagi pengembang aplikasi dan gim untuk menghadirkan visual yang jauh lebih kompleks dan detail di layar ponsel.

Terobosan Fabrikasi 2 nm GAA

Selain sektor grafis, lompatan teknologi juga terlihat pada proses manufaktur. Exynos 2600 diproduksi menggunakan teknologi fabrikasi 2 nm Gate All Around (GAA). Metode ini menjadi standar baru dalam efisiensi produksi semikonduktor.

Teknologi GAA memungkinkan kontrol arus listrik yang jauh lebih presisi dibandingkan metode FinFET konvensional. Imbasnya, konsumsi daya dapat ditekan secara signifikan tanpa perlu mengorbankan performa komputasi. Bagi pengguna smartphone flagship, ini berarti perangkat tidak hanya lebih kencang, tetapi juga memiliki manajemen suhu yang lebih stabil dan daya tahan baterai yang lebih panjang saat digunakan untuk aktivitas berat.

Ray Tracing dan Kecerdasan Buatan

Samsung turut memperkuat kemampuan ray tracing pada Exynos 2600. Perusahaan menyebut adanya peningkatan kinerja sekitar 50 persen dibanding generasi sebelumnya dalam memproses simulasi pencahayaan, bayangan, dan refleksi realistik. Dukungan RDNA 4 membuat efek visual pada gim mobile tampil makin hidup, mendekati kualitas grafis pada PC maupun konsol gim.

Tidak berhenti di kekuatan mentah, Samsung menyisipkan kecerdasan buatan lewat fitur Exynos Neural Super Sampling (ENSS). Teknologi ini bekerja dengan prinsip serupa DLSS (Deep Learning Super Sampling) pada PC, di mana AI digunakan untuk meningkatkan resolusi gambar dari render internal yang lebih rendah.

Mekanisme ENSS memungkinkan visual tetap terlihat tajam dan gerakan tetap halus, namun beban kerja chipset menjadi lebih ringan. Pendekatan ini menunjukkan pergeseran tren pengembangan System-on-Chip (SoC), di mana AI kini berperan vital dalam optimalisasi grafis, bukan sekadar untuk fitur kamera atau asisten suara.

Persaingan di Kelas Flagship

Kehadiran Exynos 2600 dengan kombinasi fabrikasi 2 nm dan GPU RDNA 4 diproyeksikan bakal menjadi penantang serius bagi kompetitor utama seperti Snapdragon generasi terbaru. Chipset ini memiliki daya tawar unik bagi segmen pengguna yang memprioritaskan kualitas multimedia dan efisiensi daya.

Exynos 2600 diprediksi akan menjadi otak utama bagi jajaran ponsel flagship Samsung di masa depan, termasuk seri Galaxy S26. Inovasi ini menandai babak baru evolusi grafis mobile, memacu persaingan industri untuk menghadirkan pengalaman visual yang semakin imersif bagi konsumen.

Follow Kaltarabisnis.co di Google News untuk Update Berita Terkini