KALTARABISNIS.CO – Tren ponsel pintar dengan bodi ultra-tipis yang sempat dipelopori oleh produsen Android dan Apple tampaknya mulai menemui jalan buntu. Kabar mengejutkan datang dari raksasa teknologi China, Xiaomi, yang dilaporkan membatalkan rencana peluncuran perangkat ramping terbarunya. Ponsel yang sempat menjadi perbincangan hangat tersebut dikenal dengan nama Xiaomi 17 Air.
Sosok Xiaomi 17 Air baru-baru ini muncul di permukaan melalui unggahan video hands-on singkat unit purwarupa (prototype) oleh pembocor ternama, Bald Panda, di media sosial Weibo. Dalam unggahan tersebut, terungkap bahwa Xiaomi 17 Air mengusung layar seluas 6,59 inci dengan daya tarik utama pada dimensinya. Perangkat ini memiliki ketebalan hanya 5,5 mm, sebuah pencapaian yang secara teknis sedikit lebih tipis dibandingkan iPhone Air yang disebut-sebut memiliki ketebalan 5,6 mm.
Spesifikasi Gahar di Balik Bodi Ramping
Meski memiliki profil yang sangat tipis, para penggemar teknologi sempat dibuat kagum dengan spesifikasi yang diusung purwarupa ini. Tipster Digital Chat Station turut memberikan bocoran bahwa Xiaomi 17 Air sedianya akan dipersenjatai dengan chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5, yang merupakan prosesor kasta tertinggi dari Qualcomm saat ini.
Selain dapur pacu yang mumpuni, spesifikasi lain yang direncanakan juga tergolong ambisius untuk ponsel setipis itu:
- Kapasitas Baterai: Mengusung daya 6.000 mAh, setara dengan smartphone konvensional berbodi tebal.
- Sektor Kamera: Dibekali kamera utama beresolusi fantastis 200 MP.
- Dimensi Fisik: Ketebalan hanya 5,5 mm yang memecahkan rekor desain ramping.
Alasan Penghentian Produksi Secara Massal
Namun, harapan konsumen untuk melihat Xiaomi 17 Air bersaing dengan iPhone Air di pasar global harus pupus. Laporan terbaru menyebutkan bahwa pengembangan ponsel ini resmi dihentikan pada tahap purwarupa saja dan tidak akan masuk ke jalur produksi massal. Salah satu faktor utama penyebab kegagalan ini adalah proyeksi permintaan pasar yang dinilai melemah, sehingga peluncuran ponsel tipis dianggap tidak masuk akal secara komersil bagi perusahaan.
Di sisi lain, laporan dari Gizmochina menyoroti bahwa menciptakan ponsel ultra-tipis menuntut terlalu banyak kompromi teknis yang berisiko bagi pengalaman pengguna. Beberapa kendala krusial yang ditemukan meliputi keterbatasan sistem pembuangan panas (termal), sulitnya menempatkan modul kamera yang besar, hingga keterbatasan ruang untuk mengoptimalkan komponen internal lainnya. Dengan penghentian proyek ini, Xiaomi tampaknya lebih memilih fokus pada perangkat yang lebih fungsional dan diterima pasar luas daripada sekadar mengejar rekor ketipisan bodi.
