KALTARABISNIS.CO – Pelaksanaan ibadah puasa pada tanggal 27 Rajab dikategorikan sebagai amalan sunnah yang memiliki ketentuan khusus terkait pembacaan niat. Secara garis besar, niat puasa ini dapat dilafalkan pada malam hari sebelum pelaksanaan atau pada siang hari, dengan catatan peserta puasa belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
Berikut adalah detail pelafalan niat sesuai dengan waktu pelaksanaannya:
Ketentuan Niat Puasa Rajab
Umat Islam yang hendak menjalankan ibadah ini dapat memilih salah satu dari dua waktu pembacaan niat berikut:
Niat Malam Hari (jika sudah puasa tapi lupa berniat malam harinya).
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَجَبَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma Rajaba sunnatan lillâhi ta’âlâ. Artinya: “Saya berniat puasa Rajab, sunnah karena Allah ta’âlâ.”
Niat Siang Hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ شَهْرِ رَجَبَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i syahri rajaba lillâhi ta’âlâ. Artinya: “Saya niat puasa sunnah bulan Rajab hari ini, sunnah karena Allah ta’âlâ.”
Dasar Hukum dalam Mazhab Syafi’i
Status hukum puasa 27 Rajab sebagai amalan sunnah merujuk pada literatur klasik Islam, khususnya Majmu’ Syarah al-Muhadzab Jilid VI karya Imam Nawawi. Dalam perspektif Mazhab Syafi’i, bulan-bulan haram seperti Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab memiliki keutamaan puasa yang lebih tinggi dibanding bulan lainnya di luar Ramadhan.
Imam Nawawi dalam kitab tersebut menerangkan secara spesifik mengenai urutan keutamaan bulan:
“(فرع) أفضل الشهور للصوم بعد رمضان: الاشهر الحرم. وأفضلها المحرم، ثم رجب، ثم الحجة، ثم القعدة، ثم شهر شعب”
Artinya: “(Cabang) Bulan-bulan terbaik untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah bulan-bulan haram. Yang paling utama adalah Muharram, kemudian Rajab, lalu Dzulhijjah, Dzulqa’dah, dan Sya’ban.”
Tinjauan Sanad dan Keutamaan Amal
Terkait keutamaan khusus bulan Rajab, Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan catatan dalam kitab Tabyinul ‘Ajab Bima Warada fi Fadli Rajab (seperti dikutip melalui NU Online). Beliau menjelaskan bahwa sebagian hadits mengenai keistimewaan khusus Rajab memiliki sanad yang lemah karena adanya perawi yang dinilai dhaif oleh ulama hadis.
Namun, hal ini tidak serta-merta menggugurkan kesahihan amalan tersebut. Dalam kitab Al-Adzkar, Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits dhaif tetap diperbolehkan untuk diamalkan dalam koridor fadhailul a’mal (keutamaan amalan), selama hadits tersebut bukan merupakan hadits palsu.
Dengan demikian, puasa pada 27 Rajab tetap dinilai sah dan merupakan bagian dari amalan sunnah yang bernilai ibadah, sejajar dengan puasa sunnah hari lainnya di bulan Rajab.
