Langit selalu menyimpan cerita yang membuat manusia menengadah lebih lama dari biasanya. Salah satunya adalah Gerhana Matahari, peristiwa ketika Bulan berada di posisi tertentu sehingga cahaya Matahari ke Bumi terhalang sebagian atau seluruhnya. Fenomena ini bukan hanya soal perubahan cahaya siang hari, tetapi juga momen penting dalam ilmu astronomi yang terus dipantau dengan ketelitian tinggi.
Memasuki tahun 2026, perhatian pengamat langit dunia kembali tertuju pada rangkaian gerhana Matahari yang akan terjadi hingga beberapa tahun ke depan. Setelah periode relatif sepi tanpa gerhana Matahari total, kalender astronomi kembali padat dengan berbagai jenis gerhana, mulai dari total hingga cincin api. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat Indonesia: apakah salah satu dari peristiwa tersebut dapat disaksikan langsung dari Tanah Air?
Untuk menjawabnya, penting memahami jadwal gerhana yang akan berlangsung, wilayah lintasan fenomena, serta peluang keterlihatannya dari Indonesia. Dengan pemahaman yang tepat, publik dapat menempatkan ekspektasi secara realistis sekaligus menambah wawasan tentang dinamika langit yang jarang terjadi.
Jadwal Gerhana Matahari 2026
Tahun 2026 menjadi awal dari periode aktif gerhana Matahari. Beberapa peristiwa penting tercatat dalam kalender astronomi internasional dan menjadi sorotan para peneliti.
Gerhana Matahari Cincin – 17 Februari 2026
Pada tanggal ini, Bulan melintas di depan Matahari namun tidak sepenuhnya menutup piringan Matahari. Akibatnya, bagian tepi Matahari masih terlihat membentuk lingkaran cahaya yang sering disebut cincin api. Jalur utama fenomena ini berada di wilayah Antartika, dengan sebagian kecil area sekitarnya hanya dapat menyaksikan gerhana sebagian.
Gerhana Matahari Total – 12 Agustus 2026
Inilah peristiwa yang paling banyak dibicarakan. Gerhana Matahari total terjadi ketika Bulan menutupi Matahari secara penuh di wilayah tertentu. Jalur totalitas pada tanggal ini melintasi kawasan lintang tinggi seperti Greenland, Islandia, hingga sebagian Eropa. Durasi puncak gerhana di beberapa titik berlangsung lebih dari dua menit, meski Matahari tampak rendah di cakrawala.
Kedua gerhana tersebut menandai dimulainya rangkaian panjang fenomena serupa yang akan berlanjut hingga 2028. Bagi komunitas astronomi, 2026 sering disebut sebagai pintu pembuka masa sibuk pengamatan gerhana Matahari.
Rangkaian Gerhana Matahari Hingga 2028
Tidak hanya berhenti di 2026, rangkaian Gerhana Matahari berlanjut dalam dua tahun berikutnya dengan komposisi yang relatif seimbang antara gerhana total dan cincin api.
- Gerhana Matahari Total – 12 Agustus 2026: Melintasi wilayah Eropa Utara dan kawasan lintang tinggi, menjadi gerhana total pertama setelah jeda panjang.
- Gerhana Matahari Total – 2 Agustus 2027: Peristiwa ini dikenal memiliki durasi totalitas yang sangat panjang, lebih dari enam menit. Jalur gerhana mencakup Spanyol bagian selatan, Afrika Utara, hingga Timur Tengah.
- Gerhana Matahari Total – 22 Juli 2028: Jalur gerhana melintasi Australia hingga Selandia Baru. Beberapa wilayah terpencil berpotensi menikmati totalitas lebih dari lima menit.
- Gerhana Matahari Cincin – 17 Februari 2026: Terfokus di kawasan Antartika dan lautan sekitarnya.
- Gerhana Matahari Cincin – 6 Februari 2027: Terlihat di sebagian Amerika Selatan dan Afrika Barat, dengan waktu kejadian berdekatan dengan Matahari terbenam.
- Gerhana Matahari Cincin – 26 Januari 2028: Jalurnya cukup panjang, melintasi Kepulauan Galapagos, Amerika Selatan, hingga Eropa Barat dan Afrika Utara.
Dalam rentang waktu kurang dari tiga tahun, enam gerhana Matahari terjadi dengan karakteristik berbeda. Kondisi ini jarang ditemui dan memberi kesempatan luas bagi peneliti untuk mempelajari Matahari, Bulan, serta interaksi keduanya secara lebih mendalam.
Peluang Keterlihatan dari Indonesia
Pertanyaan yang paling sering muncul adalah peluang keterlihatan gerhana dari Indonesia. Jawabannya perlu dibedakan berdasarkan jenis dan jalur gerhana.
Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026
Jalur utama berada jauh di wilayah Antartika. Indonesia tidak termasuk area yang dapat mengamati fenomena ini, baik secara penuh maupun sebagian.
Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026
Jalur totalitas melintas di belahan Bumi utara. Indonesia berada di luar zona visibilitas, sehingga peristiwa ini tidak dapat disaksikan dari wilayah Nusantara.
Gerhana pada tahun-tahun berikutnya juga sebagian besar terjadi di lintang yang tidak mencakup Indonesia. Beberapa di antaranya hanya bisa diamati di benua lain atau wilayah lautan tertentu. Meski demikian, Indonesia masih memiliki peluang menyaksikan fenomena gerhana lain, seperti gerhana Bulan, yang visibilitasnya lebih luas dibandingkan gerhana Matahari. Untuk gerhana Matahari, posisi geografis sangat menentukan, karena hanya wilayah yang berada di jalur lintasan yang dapat melihat peristiwa tersebut secara langsung.
