KALTARABISNIS.CO – Layanan internet satelit SpaceX milik Elon Musk kini menghadapi ujian keamanan terberat di wilayah Iran. Hal ini terjadi di tengah penindakan keras pemerintah Iran terhadap para pembangkang di negara tersebut.
Melansir laporan Reuters, SpaceX telah berfungsi sebagai jalur komunikasi utama untuk melawan pemadaman internet yang diberlakukan negara sejak peluncurannya selama perang di Ukraina. Pada awal pekan ini, Elon Musk memutuskan untuk menggratiskan layanan satelit tersebut bagi warga Iran.
Langkah ini menempatkan perusahaan antariksa Musk di pusat titik panas geopolitik. Para insinyur SpaceX yang berbasis di Amerika Serikat kini harus berhadapan langsung dengan kekuatan regional Iran yang dipersenjatai pengacau sinyal satelit serta taktik pemalsuan sinyal (spoofing).
Kemampuan SpaceX mengatasi serangan Iran ini dipantau secara ketat oleh pasukan militer Amerika Serikat serta badan intelijen yang menggunakan Starlink dan varian militernya, Starshield. Selain itu, China juga mengamati perkembangan ini karena konstelasi internet satelitnya diprediksi akan menyaingi Starlink dalam beberapa tahun mendatang.
Situasi di Iran ini juga menjadi ajang pamer profil tinggi Starlink kepada para investor. Hal ini krusial mengingat SpaceX sedang mempertimbangkan untuk melakukan pencatatan saham publik (IPO) pada tahun ini.
Mantan kepala kebijakan ruang angkasa Pentagon di bawah Presiden Joe Biden, John Plumb, memberikan tanggapannya pada Jumat (16/1/2026). Ia menyatakan:
“Kita berada di bagian awal yang aneh dari sejarah komunikasi yang dikirimkan melalui ruang angkasa di mana SpaceX adalah satu-satunya penyedia sejati dalam skala ini”.
Ia juga menambahkan, “Dan rezim-rezim represif ini berpikir mereka masih dapat mematikan komunikasi, tetapi saya pikir hari itu akan tiba di mana hal itu tidak mungkin lagi,”.
Starlink dinilai lebih sulit diganggu dibandingkan jaringan kabel atau menara seluler konvensional. Keunggulan ini menjadi sangat penting bagi demonstran untuk mengirimkan bukti video penindakan aparat. Amnesty International mengonfirmasi bahwa banyak rekaman kekerasan yang beredar berasal dari pengguna yang memiliki akses Starlink.
Namun, Iran tidak tinggal diam. Berdasarkan data dari Holistic Resilience, Iran diduga kuat menggunakan pengacau sinyal satelit untuk mengganggu konektivitas. Aktivis oposisi Iran, Nariman Gharib, juga melaporkan adanya taktik spoofing atau penyiaran sinyal GPS palsu untuk menonaktifkan terminal Starlink.
Gangguan spoofing ini menyebabkan kekacauan pada koneksi dan memperlambat kecepatan internet secara drastis. Nariman Gharib menjelaskan dampaknya secara spesifik:
“Anda mungkin dapat mengirim pesan teks, tetapi lupakan panggilan video”.
