add_action( 'wp_footer', 'delay_gtag_script' ); function delay_gtag_script() { ?>

Saham BBRI dan BMRI Kompak Melaju di Zona Hijau, Gimana BBCA dan BBNI?

pasar saham pasar saham

Sektor perbankan Indonesia menunjukkan taringnya pada perdagangan Jumat, 20 Februari 2026. Empat emiten perbankan dengan kapitalisasi pasar besar (Big Four) terpantau kompak bergerak di zona hijau seiring rilis hasil stress test Bank Indonesia (BI) yang mengonfirmasi ketahanan sektor finansial nasional terhadap berbagai risiko.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memimpin penguatan dengan lonjakan harga mencapai 2,12 persen. Berdasarkan data perdagangan pukul 14.36 WIB, harga saham BBRI berada di level Rp3.850,00, naik 80,00 poin dari penutupan sebelumnya di Rp3.770,00. Sepanjang hari, emiten ini sempat menyentuh level tertinggi di Rp3.870,00 dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp565,66 triliun.

Langkah serupa diikuti oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mencatatkan kenaikan sebesar 1,48 persen atau naik 75,00 poin ke posisi Rp5.150,00 pada pukul 14.37 WIB. Saham dengan kapitalisasi pasar Rp468,93 triliun ini bergerak fluktuatif di rentang Rp5.050,00 hingga Rp5.175,00 setelah dibuka pada level Rp5.100,00.

Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNNI) turut parkir di zona bullish dengan penguatan 0,45 persen di level Rp4.470,00 pada pukul 14.37 WIB. Saham BBCA milik PT Bank Central Asia Tbk juga terpantau terapresiasi sebesar 0,35 persen ke angka Rp7.200,00 pada pukul 14.38 WIB, dengan posisi tertinggi harian sempat menyentuh Rp7.250,00.

Sentimen positif ini dipicu oleh pernyataan Bank Sentral Indonesia yang menyebutkan bahwa likuiditas perbankan saat ini masih sangat memadai. Kapasitas permodalan yang terjaga tinggi serta risiko kredit yang rendah menjadi fondasi utama yang membuat investor percaya diri untuk melakukan akumulasi beli pada saham-saham perbankan.

Data fundamental per Desember 2025 memperkuat keyakinan pasar, di mana Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) nasional mencapai angka kuat 25,89%. Selain itu, kualitas aset perbankan juga terjaga dengan Rasio Kredit Bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) bruto di level 2,05% dan NPL netto sebesar 0,75%. Kondisi ini dinilai amat solid dalam menyerap risiko sekaligus mendukung pertumbuhan penyaluran kredit ke depannya.